| 1.530 Views
Pewarta: Laily Rahmawati
Bogor (ANTARA News) – Peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan teknologi pengolahan beras ke beras untuk meningkatkan mutu beras dari yang berkualitas rendah menjadi beras kualitas premium.
Teknologi pengolahan beras ke beras untuk meningkatkan kualitas beras mutu medium menjadi premium dilakukan dengan mesin tambahan selain yang umum digunakan oleh petani, kata Dr Rokhani Hasbullah, peneliti dari Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Selasa.
Ia menjelaskan sebagian besar petani di Indoensia menggunakan alat penggilingan padi kecil dengan dua mesin yang meliputi mesin pengupas dan penyosoh gabah. Peralatan itu hanya bisa menghasilkan beras dengan derajat sosoh tidak tinggi, yang masuk kategori beras mutu rendah.
“Di sini peluang pasar bagi pelaku bisnis supaya meningkatkan kualitas beras menjadi berkualitas,” katanya.
“Length grade ini bisa disetel apakah menginginkan beras kepala 100 persen, 95 persen atau 90 persen sesuai kelas mutu yang diinginkan,” katanya.
Ia lebih lanjut menjelaskan dibutuhkan perlengkapan mesin seperti ban berjalan, penimbang otomatis, alat pengemas serta penyedot debu.
“Tentunya kalau kita bicara mutu secara fisik acuannya adalah SNI beras yang parameternya adalah kadar air, derajat sosoh, persentase beras kepala, butir menir, butir merah, butir kuning, butir kapur, benda asing dan butir gabah,” katanya.
Ia mengatakan, dalam dunia bisnis bisa saja dilakukan pencampuran atau pengoplosan beberapa beras sejenis dari beberapa daerah untuk mendapatkan rasa, aroma dan tekstur nasi yang disukai konsumen.
Adanya jaminan mutu melalui penerapan cara berproduksi yang baik dan pelabelan yang mencantumkan fakta nutrisi atau izin edar Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) dan halal akan meningkatkan kepercayaan konsumen, dan membuat mereka bersedia membayar dengan harga lebih mahal tanpa merasa dirugikan.
“Namun sebagai konsumen mestilah cerdas,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa mengkonsumsi beras premium tidaklah menyehatkan karena dengan derajat sosoh yang tinggi beberapa kandungan gizi pada beras seperti protein, lemak, mineral dan vitamin sudah berkurang sementara porsi karbohidratnya meningkat.
“Kalau ingin sehat konsumsilah beras pecah kulit atau beras pratanak atau pangan lainnya yang memiliki indeks glikemik rendah,” kata Rokhani.
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017
